"Selamat datang! Temukan solusi terbaik untuk kebutuhan Anda Jelajahi, pilih, dan rasakan perbedaannya. Kami hadir untuk memberikan yang terbaik bagi Anda."
WhatsApp Icon Chat WhatsApp

 

diposkan pada : 15-03-2026 06:01:11

Terungkap! Ternyata Ini Sejarah Nastar dan Kastengel yang Jarang Diketahui

 

 

Mengapa nastar dan kastengel jadi ikon Lebaran di Indonesia? Simak perjalanan sejarah unik kedua kue ini, dari pengaruh Belanda hingga menjadi tradisi wajib di meja tamu.

 

 

Sejarah unik nastar dan kastengel di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh kolonialisme Belanda yang membawa budaya kuliner Eropa ke Nusantara. Berikut adalah rincian sejarah kedua kue ikonik tersebut:

1. Asal-Usul Nastar: Adaptasi Pie Eropa

  • Etimologi: Nama "nastar" berasal dari bahasa Belanda, yaitu ananas (nanas) dan taartjes (tart), yang kemudian disingkat menjadi nastar.
  • Inspirasi dan Modifikasi: Resep asli nastar terinspirasi dari kue pie Eropa yang biasanya diisi dengan buah blueberry, strawberry, atau apel. Namun, pada masa penjajahan, buah-buahan tersebut sangat sulit ditemukan di Indonesia. Sebagai solusinya, masyarakat mengganti isian tersebut dengan buah nanas yang merupakan buah tropis yang mudah didapat.
  • Kategorisasi: Meskipun sering dianggap kue kering, pakar pastry menyebut nastar sebenarnya termasuk dalam kategori cake karena teksturnya yang lembut dan lembap, bukan garing.
  • Filosofi: Selain identik dengan Lebaran, nastar memiliki makna khusus bagi etnis Tionghoa yang menyebutnya ong lai (pir emas), yang dipercaya sebagai simbol kemakmuran dan keberuntungan.

2. Asal-Usul Kastengel: Dari Batangan Panjang ke Ukuran Kecil

  • Etimologi: Nama aslinya adalah kaasstengels, dari kata kaas (keju) dan stengels (batangan). Secara harfiah, kastengel berarti kue keju batangan.
  • Perubahan Bentuk: Di negara asalnya, Belanda, kastengel asli memiliki panjang mencapai 30 cm, mirip dengan roti baguette Prancis, dan biasanya disantap bersama sup atau salad. Saat diperkenalkan di Indonesia, bentuknya diperpendek menjadi 3-4 cm karena pada masa itu sulit menemukan oven berukuran besar.
  • Akulturasi Budaya: Kue ini dulunya disajikan di rumah-rumah pejabat Belanda yang menikah dengan wanita pribumi, yang menjadi awal mula akulturasi tradisi makanan Belanda ke masyarakat lokal.
  • Fakta Unik: Di kota Krabbedijke, Belanda, kastengel sempat digunakan sebagai pengganti mata uang dalam sistem barter karena bahan utamanya, keju, dianggap sebagai bahan makanan yang sangat berharga.

3. Mengapa Menjadi Identik dengan Lebaran?

Tradisi menyajikan kue kering seperti nastar dan kastengel saat Lebaran baru muncul secara masif pada masa kolonial Belanda sekitar abad XIX hingga XX. Interaksi sosial antara orang Belanda dengan masyarakat pribumi menyebabkan terjadinya penyerapan budaya kuliner Eropa.

Pada masa itu, menyajikan kue kering juga menjadi simbol derajat sosial seseorang. Masyarakat kelas menengah ke atas mulai beralih dari kue tradisional (yang berbahan sagu atau tepung ketan) ke kue kering karena tekstur kue tradisional dianggap terlalu lengket dan tidak tahan lama, sementara kue kering tetap awet meskipun disajikan berminggu-minggu. Hal inilah yang membuat nastar dan kastengel akhirnya berakar kuat sebagai hidangan wajib di meja tamu setiap Hari Raya Idul Fitri

 

Bagaimana cara membuat nastar yang rendah gula dan lebih sehat?

 

Membuat nastar yang rendah gula dan lebih sehat dapat dilakukan dengan memodifikasi bahan-bahan utama, seperti menggunakan pemanis alternatif atau menambah kandungan serat. Berdasarkan sumber yang tersedia, berikut adalah panduan dan resep untuk membuat nastar yang lebih sehat:

1. Resep Nastar Rendah Gula

Untuk membuat variasi nastar yang lebih ramah bagi pelaku hidup sehat, Anda dapat mengikuti langkah-langkah berikut:

  • Adonan Dasar: Campurkan margarin, mentega, gula halus, dan kuning telur dalam wadah, lalu kocok menggunakan mixer atau whisk hingga merata.
  • Bahan Kering: Masukkan tepung terigu, maizena, dan susu bubuk secara perlahan. Aduk menggunakan spatula hingga adonan tercampur rata.
  • Pengisian: Ambil adonan, bentuk menjadi bulat pipih, isi dengan selai nanas, lalu bulatkan kembali.
  • Olesan Rendah Gula: Kunci utama versi rendah gula adalah pada bahan olesannya. Gunakan campuran kuning telur, susu tawar cair, dan gula stevia sebagai olesan agar warna tetap cantik namun rendah kalori.
  • Pemanggangan: Panggang dalam oven dengan suhu 160 derajat Celcius selama kurang lebih 25 menit hingga matang.

2. Tips Tambahan untuk Nastar yang Lebih Sehat

Selain resep di atas, terdapat beberapa inovasi dan tips untuk meningkatkan nilai nutrisi pada kue kering:

  • Penggunaan Pemanis Alami: Anda bisa melakukan pengurangan jumlah gula atau menggantinya dengan bahan alami lainnya.
  • Penambahan Serat: Menambahkan serat dari biji-bijian atau buah kering ke dalam adonan dapat membuat kue lebih mengenyangkan dan sehat.
  • Tepung Alternatif: Mengganti tepung terigu biasa dengan tepung alternatif (seperti tepung almond atau tepung bebas gluten lainnya) merupakan salah satu tren gaya hidup sehat saat ini.
  • Pemilihan Lemak: Menggunakan margarin berbahan dasar minyak sawit dapat membantu menjaga kerenyahan kue tanpa harus menggunakan lemak jenuh yang berlebihan, karena minyak sawit cenderung stabil pada suhu tinggi.
  • Tekstur yang Tepat: Untuk mendapatkan tekstur yang lembut namun tetap sehat, gunakan tepung terigu protein rendah yang kadar glutennya lebih sedikit sehingga kue tidak alot.

Pastikan kue benar-benar dingin sebelum disimpan dalam toples kedap udara agar tetap renyah dan tahan lama tanpa perlu menggunakan pengawet tambahan

 

Mengapa nastar dianggap sebagai simbol keberuntungan bagi etnis Tionghoa?

 

Etnis Tionghoa menganggap nastar sebagai simbol keberuntungan karena dalam bahasa mereka, kue ini disebut dengan istilah "ong lai". Nama tersebut memiliki makna filosofis yang mendalam sebagai berikut:

  • Arti Harfiah: Secara etimologi, ong lai diartikan sebagai "pir emas".
  • Makna Simbolis: Nama tersebut dipercaya merupakan representasi dari kemakmuran, keberuntungan, dan rezeki yang melimpah bagi pemilik rumah maupun tamu yang memakannya.

Karena filosofinya yang membawa pesan positif tersebut, nastar tidak hanya menjadi sajian ikonik saat hari raya Idul Fitri, tetapi juga selalu hadir sebagai hidangan wajib dalam perayaan Imlek masyarakat Tionghoa. Selain nastar, kehadiran aneka kue dalam perayaan besar di Indonesia secara umum memang melambangkan suka cita dan harapan baru